Sebanyak 26 mahasiswa lintas program studi di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang bertolak ke Kabupaten Nias Selatan pada 18 Juni 2026 melalui Pelabuhan Sibolga untuk memenuhi undangan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpar) Kabupaten Nias Selatan. Kehadiran rombongan tersebut dalam rangka menampilkan Diseminasi Pertunjukan Transformatif pada Special Performance Maniamölö Fest 2026 yang berlangsung pada 14–21 Juni 2026 di Desa Adat Hilisimaetanö, Kecamatan Maniamölö, Kabupaten Nias Selatan.

Rombongan yang dipimpin oleh Kurniadi Ilham, S.Sn., M.Sn. ini juga menyempatkan diri mengunjungi Desa Adat Bawomatoluo untuk menyaksikan secara langsung atraksi budaya Lompat Batu (Fahombo atau Homö Batu), salah satu ikon budaya masyarakat Nias. Maniamölö Fest 2026 yang mengusung tema “Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan” merupakan bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) dan menjadi ruang pelestarian budaya Nias melalui berbagai kegiatan adat, seni pertunjukan, serta bazar UMKM.
Special Performance Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang diawali dengan penyerahan plakat oleh Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan dan Alumni, Enrico Alamo, S.Sn., M.Sn., kepada Kepala Dinas Disbudpar Kabupaten Nias Selatan, Anggreani Dachi, S.P., M.Si., serta kepada Kepala Desa Hilisimaetanö, Formil Dachi.
Pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas program studi yang terdiri dari Seni Musik, Karawitan, Seni Tari, Seni Teater, Tata Rias, Studi Humanitas, Tari Melayu, dan Tari Minang yang dibimbing langsung oleh Weldi Syaputra, M.Sn. Karya-karya yang ditampilkan lahir dari dialog kreatif antara budaya Minangkabau dan budaya Nias.
Karya pertama berjudul Si’Ulu Baluse, sebuah karya tari yang mengangkat semangat kepahlawanan dan heroisme pemuda Nias dalam mempertahankan tanah leluhur dari ancaman musuh. Karya ini dikoreografikan oleh Belala Gea dan Raflis Oktamiza Putra, serta didukung oleh para penari Belala Gea, Disnia Azara, Mercy Alberta Lombu, Party Christiani Gulo, Raflis Oktamiza Putra, Fazira Aulia Putri, dan Nara Aninda Agil.

Karya kedua adalah komposisi musik berjudul Tano Niha Resonan yang mengeksplorasi tiga elemen budaya Nias, yakni Hoho, Maena, dan motif alat musik logam. Hoho dihadirkan sebagai ruang ingatan dan suara leluhur, sementara semangat kebersamaan dalam Maena ditransformasikan menjadi energi perjuangan dalam menjaga nilai-nilai budaya. Melalui perpaduan string, MIDI, dan unsur puitik, karya ini merepresentasikan memori kolektif, persatuan, semangat, dan keberanian masyarakat Nias. Karya ini digarap oleh komposer Jefirsen Saleleubaja dengan para pendukung Weldi Syaputra, M.Sn., Watak Jenidar Gulo, Amy Faliha, Rycky Hendra Julison, Jenny Pinta Amanda Hulu, Jefirsen Saleleubaja, Pajar Kristopel Simanjuntak, Zahwa Alya Fitri, dan Farid Ramadanus.
Penampilan berikutnya adalah komposisi musik Sijobang Reimajinasi yang terinspirasi dari tradisi kesenian Sijobang Minangkabau. Karya ini dikomposisikan oleh Jhori Andela, S.Sn., M.Sn. dan didukung oleh para pemusik Budi Salman, Imam Z. Muzaki, Alvi Pratama Wirantara, Defran Ferdoski, dan Zahrul Azmi E.
Sebagai penutup, ditampilkan karya tari Rampak Lambuak yang dikoreografikan oleh Kurniadi Ilham, S.Sn., M.Sn. Karya ini berangkat dari kekayaan tradisi silek dan randai Minangkabau. Silek tidak hanya dipahami sebagai seni bela diri tradisional, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai etika, penghormatan, kebersamaan, serta keseimbangan hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Empat karya yang ditampilkan oleh Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang berhasil memukau para penonton yang memadati arena Maniamölö Fest 2026. Antusiasme penonton terlihat dari tepuk tangan meriah dan standing applause yang terus diberikan pada setiap penampilan, terutama pada karya penutup.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Nias Selatan dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran rombongan ISI Padang Panjang. Menurutnya, partisipasi ISI Padang Panjang tidak hanya memperkaya rangkaian kegiatan festival, tetapi juga menjadi jembatan yang mempererat hubungan budaya antara Nias dan Minangkabau melalui karya-karya seni yang berkualitas dan inspiratif.





